Villains Vol 6 Di tengah membanjirnya genre Otome Isekai (masuk ke dunia gim kencan) yang sering kali terasa repetitif dengan kue-kue manis dan gaun pesta, Villains Are Destined to Die (atau Death Is the Only Ending for the Villainess) tetap berdiri kokoh sebagai standar emas genre ini. Alasannya sederhana: ia tidak menjual fantasi romansa yang mudah, melainkan menjual survival thriller psikologis.
Volume 6 ini adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh para penggemar, khususnya pendukung “Tim Putra Mahkota”. Setelah ketegangan yang menyesakkan di Kompetisi Berburu, cerita bergeser ke situasi hidup-mati yang lebih intim. Penelope Eckhart tidak lagi hanya bertarung melawan prasangka keluarganya, tetapi harus bertahan hidup secara fisik dari serbuan pembunuh bayaran bersama satu-satunya pria yang paling berbahaya di kekaisaran: Putra Mahkota Callisto Regulus. Volume ini adalah titik balik di mana dinamika “predator dan mangsa” berubah menjadi kemitraan yang disfungsional namun magnetis.
Callisto Regulus: Si Gila yang Karismatik
Sorotan utama Volume 6, tanpa diragukan lagi, adalah Callisto. Selama ini, Callisto digambarkan sebagai tiran yang impulsif, yang bisa memenggal kepala orang hanya karena bersin di depannya. Namun, terdamparnya dia dan Penelope di hutan (dan kemudian di dalam gua) akibat serangan para pembunuh membuka lapisan baru karakternya.
Penulis dan ilustrator SUOL berhasil menyajikan chemistry yang meledak-ledak antara Penelope dan Callisto. Mereka berdua sama-sama “rusak”, sama-sama sinis, dan sama-sama terbiasa dengan ancaman pembunuhan. Dialog-dialog sarkastis mereka di tengah situasi genting adalah emas murni. Callisto tidak memperlakukan Penelope seperti damselfly in distress (gadis tak berdaya); dia memperlakukannya sebagai seseorang yang menarik, menyebalkan, namun kompeten. (berita bola)
Momen di mana Callisto menunjukkan sisi rentannya—bukan dengan tangisan cengeng, tapi dengan pengakuan blak-blakan tentang betapa memuakkannya hidup di istana—membuatnya menjadi kandidat pemeran utama pria (ML) yang paling kuat. Dia gila, ya, tapi kegilaannya jujur. Bagi Penelope yang selalu harus berpura-pura di depan target lain (seperti Reynold atau Derrick), kejujuran brutal Callisto justru menjadi udara segar.
Penelope: Dinginnya Hati Sang Pemain
Di sisi lain, kita melihat sisi Penelope yang semakin pragmatis dan, bisa dibilang, kejam. Monolog internal Penelope di volume ini menegaskan bahwa dia masih melihat dunia ini sebagai “gim”. Saat Callisto terluka atau saat Eclise menatapnya dengan obsesi, pikiran pertama Penelope bukanlah “Apakah mereka baik-baik saja?”, melainkan “Bagaimana ini mempengaruhi persentase kesukaanku?” dan “Apakah ini akan membunuhku?”.
Pendekatan dingin ini mungkin membuat Penelope terlihat tidak simpatik bagi sebagian pembaca, namun justru itulah kekuatan naratifnya. Dia adalah korban trauma yang hanya ingin pulang. Volume 6 memperlihatkan betapa lelahnya mental Penelope. Adegan saat dia menggunakan sihir peta atau merawat luka Callisto bukan didasari cinta, tapi kalkulasi bertahan hidup. Ironisnya, sikap dingin inilah yang justru menarik perhatian Callisto. Ini adalah dekonstruksi genre yang brilian: Penelope tidak mencoba menjadi “gadis baik” yang mengubah hati penjahat dengan cinta; dia hanya mencoba bertahan hidup, dan itu justru membuat penjahat jatuh cinta padanya.
Seni SUOL: Kemewahan Visual Villains Vol 6
Membahas manhwa ini tanpa memuji seni SUOL adalah sebuah kejahatan. Kualitas ilustrasi di Volume 6 sangat memukau, terutama dalam penggambaran pencahayaan.
Adegan di dalam gua yang diterangi oleh sihir atau api unggun digambar dengan atmosfer yang intim dan dramatis. Bayangan yang jatuh di wajah Callisto membuatnya terlihat mengintimidasi sekaligus tampan. Detail pada pakaian—tekstur jubah kerajaan yang robek, kilap darah di pedang, hingga untaian rambut Penelope yang berantakan—semuanya digarap dengan presisi tinggi. Ekspresi wajah karakter juga sangat nuansatif; SUOL bisa menggambarkan tatapan Callisto yang berubah dari niat membunuh menjadi ketertarikan geli hanya dalam satu panel.
Eclise: Obsesi yang Menggelapkan
Meskipun porsinya di volume ini mungkin terbayangi oleh Callisto, kehadiran Eclise (budak ksatria) tetap memberikan nada dasar yang meresahkan. Eclise adalah bom waktu.
Di volume-volume sebelumnya, dia terlihat sebagai “anjing setia”. Namun, di sekitar volume ini, pembaca mulai merasakan pergeseran. Kesetiaan Eclise bukan lagi tentang tugas, melainkan kepemilikan. Cara dia memandang Penelope mulai terasa menyesakkan. Kontras antara hubungan Penelope-Callisto (yang didasari kejujuran brutal dan kesetaraan) dengan Penelope-Eclise (yang didasari manipulasi dan hierarki tuan-budak) semakin diperjelas. Ini adalah penulisan karakter yang cerdas untuk mempersiapkan konflik besar yang akan datang.
Kesimpulan Villains Vol 6
Villains Are Destined to Die, Vol. 6 adalah volume yang mengubah peta permainan. Ia mengukuhkan Callisto Regulus bukan lagi sebagai ancaman kematian (“Death Flag”), melainkan sebagai sekutu potensial yang paling menarik.
Volume ini penuh dengan aksi, dialog cerdas, dan ketegangan romantis yang matang. Bagi pembaca yang lelah dengan protagonis wanita yang pasif atau ML yang terlalu sempurna bak pangeran dongeng, volume ini menawarkan alternatif yang menyegarkan: romansa antara dua orang yang siap saling membunuh jika situasi mengharuskan, namun memilih untuk saling melindungi. Sebuah page-turner yang akan membuat Anda semakin tidak sabar menanti akhir kisah Penelope.