Review Komik My ID is Gangnam Beauty

Review Komik My ID is Gangnam Beauty

Review Komik My ID is Gangnam Beauty. Di awal 2026, My ID is Gangnam Beauty tetap menjadi salah satu manhwa romansa sekolah paling relevan dan sering dibahas ulang di komunitas pembaca. Dirilis pertama kali sekitar 2016 dan selesai beberapa tahun lalu, komik ini kembali naik permukaan setelah adaptasi live-action terus diputar ulang di berbagai platform serta diskusi hangat di forum dan media sosial pasca ulang tahun ke-10 cerita utama akhir 2025. My ID is Gangnam Beauty bukan sekadar cerita gadis yang operasi plastik; ia adalah cerminan tajam tentang tekanan standar kecantikan di masyarakat Korea, bullying karena penampilan, self-acceptance, dan bagaimana perubahan fisik tidak selalu menyelesaikan luka batin. Dengan protagonis Kang Mi-rae—gadis yang memilih operasi plastik sebelum kuliah agar bisa memulai hidup baru—komik ini berhasil menyentuh jutaan pembaca yang pernah merasa tidak nyaman dengan wajah atau tubuh sendiri. Di tengah maraknya manhwa romansa modern, karya ini masih jadi referensi utama karena keberaniannya membahas isu sensitif dengan cara jujur tapi tidak menghakimi. BERITA BOLA

Plot yang Jujur dan Penuh Konflik Emosional: Review Komik My ID is Gangnam Beauty

Cerita My ID is Gangnam Beauty dimulai dengan masa kecil Mi-rae yang di-bully habis-habisan karena penampilan yang dianggap “jelek” oleh teman-temannya. Setelah lulus SMA, ia memutuskan operasi plastik total sebelum masuk universitas, berharap bisa hidup tanpa rasa takut diejek. Di kampus baru ia tampil cantik, populer, dan dikelilingi perhatian—tapi rahasia operasinya terus menghantui. Plotnya bergerak melalui konflik sehari-hari yang sangat relatable: rasa takut ketahuan, komentar tak sengaja yang menyakitkan, hingga momen ketika masa lalu muncul kembali.

Tidak ada drama berlebihan atau antagonis karikatur; konflik utama datang dari dalam diri Mi-rae sendiri dan dari masyarakat yang masih menilai orang dari penampilan. Ada romansa utama dengan Do Kyung-seok—cowok dingin yang sebenarnya sangat perhatian—dan saingan romansa ringan dengan karakter lain, tapi cerita tidak pernah jatuh ke trope klise. Arc-arc kecil seperti Mi-rae yang berjuang percaya diri tanpa makeup, menghadapi gosip kampus, atau belajar menerima masa lalunya terasa sangat grounded. Penutupan cerita memberikan resolusi yang realistis: tidak semua orang langsung menerima, tapi Mi-rae belajar bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh wajah sempurna. Di 2026, ketika isu operasi plastik, filter sosial media, dan body dysmorphia semakin sering dibahas, plot ini terasa lebih tajam dan relevan daripada saat pertama rilis.

Karakter yang Kompleks dan Relatable: Review Komik My ID is Gangnam Beauty

Kekuatan terbesar komik ini ada pada karakternya yang terasa seperti orang sungguhan. Kang Mi-rae bukan heroine yang langsung percaya diri setelah operasi; ia tetap insecure, sering overthinking, dan kadang menarik diri karena takut rahasianya terbongkar. Perkembangannya lambat tapi sangat nyata—dari gadis yang bergantung pada penampilan luar jadi seseorang yang berani tampil apa adanya meski tak sempurna.

Do Kyung-seok sebagai love interest utama punya lapisan mendalam: awalnya terlihat cuek dan kasar, tapi sebenarnya ia sangat peka terhadap perasaan orang lain dan punya alasan pribadi untuk tidak suka orang yang “pura-pura”. Chemistry mereka berkembang secara organik melalui momen-momen kecil seperti saling bantu di kelas, jalan bersama malam hari, atau konfrontasi jujur tentang masa lalu. Karakter pendukung seperti sahabat Mi-rae, teman sekamar, atau rival kampus juga punya kedalaman: mereka tidak sekadar pelengkap, tapi punya insecurity sendiri yang membuat cerita terasa seimbang. Bahkan orang tua dan teman masa kecil Mi-rae punya peran yang bermakna, menunjukkan bahwa tekanan penampilan datang dari berbagai arah—keluarga, teman, dan masyarakat.

Seni yang Clean dan Ekspresif

Seni di My ID is Gangnam Beauty clean, cerah, dan sangat fokus pada ekspresi emosi. Gaya gambarnya tidak berlebihan: mata besar tapi proporsional, desain karakter yang realistis, dan perubahan wajah Mi-rae sebelum-sesudah operasi digambar dengan detail halus tanpa terasa dramatis berlebihan. Panel sehari-hari seperti kuliah, kafe, atau kamar asrama terasa hangat dan familiar, sementara momen emosional diberi close-up wajah yang kuat—air mata, senyum gugup, atau tatapan ragu.

Warna pastel lembut mendominasi, dengan tone lebih gelap saat Mi-rae mengingat masa lalu atau menghadapi bullying. Adegan lucu sering pakai efek komedi visual sederhana, sementara momen romansa diberi panel intim yang membuat chemistry terasa nyata. Konsistensi seni tetap tinggi sepanjang cerita, membuat pembacaan terasa nyaman dan emosional dari awal sampai akhir.

Kesimpulan

My ID is Gangnam Beauty adalah manhwa yang berhasil menangkap esensi tekanan penampilan di masa muda dengan cara paling jujur dan menyentuh. Kang Mi-rae dan dunianya memberikan cerita yang ringan di permukaan tapi dalam di hati, dengan plot relatable, karakter yang hidup, dan seni yang hangat. Meski sudah lama tamat, komik ini masih sering direkomendasikan bagi siapa saja yang pernah merasa perlu “berubah” untuk diterima, dan tetap jadi salah satu yang paling emosional di genre romansa sekolah. Ia mengingatkan bahwa kecantikan sejati bukan soal wajah sempurna atau operasi, tapi tentang keberanian menerima diri sendiri dan orang-orang yang melihat nilai kita di balik tampilan luar. Bagi pembaca lama maupun yang baru mulai, My ID is Gangnam Beauty bukan sekadar manhwa; ia adalah cermin lembut tapi jujur tentang perjalanan mencintai diri sendiri di tengah dunia yang sering menghakimi. Karya ini terus membuktikan bahwa cerita sederhana dengan pesan yang kuat bisa bertahan lama dan menyentuh jutaan orang.

BACA SELENGKAPNYA DI….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *