Review Komik March Comes in Like a Lion

review-komik-march-comes-in-like-a-lion

Review Komik March Comes in Like a Lion. March Comes in Like a Lion (3-gatsu no Lion) karya Chica Umino tetap menjadi salah satu karya manga paling dihormati dan sering dibaca ulang dalam genre drama dewasa modern. Mengikuti Rei Kiriyama, seorang pemain shogi profesional berusia 17 tahun yang hidup sendirian setelah kehilangan keluarga dalam kecelakaan, komik ini bukan sekadar cerita tentang permainan shogi atau kesuksesan muda. Ia adalah potret mendalam tentang kesepian, depresi, trauma masa kecil, pencarian makna hidup, dan proses perlahan menemukan “keluarga” baru melalui hubungan antarmanusia. Dengan gaya seni yang lembut namun penuh emosi serta narasi yang sangat introspektif, karya ini berhasil menyentuh pembaca dari berbagai usia dan latar belakang, terutama mereka yang pernah merasa terisolasi meski berada di tengah keramaian. BERITA VOLI

Gaya Seni yang Lembut dan Penuh Simbolisme: Review Komik March Comes in Like a Lion

Seni Chica Umino di March Comes in Like a Lion terkenal dengan kelembutannya yang kontras dengan tema berat cerita. Karakter digambar dengan garis halus dan ekspresi wajah yang sangat ekspresif—mata Rei yang sering kosong atau sedih, senyum kecil Kawamoto bersaudara yang hangat, atau tatapan tegas para pemain shogi senior. Latar belakang sering kali menggunakan teknik watercolor lembut atau panel kosong untuk menyampaikan keheningan batin Rei. Musim dingin yang mendominasi awal cerita digambarkan dengan warna dingin dan salju yang sepi, sementara kehadiran keluarga Kawamoto membawa warna hangat dan cahaya yang perlahan menyusup.

Panel-panel sering kali digunakan secara simbolis: Rei yang digambarkan semakin kecil di ruangan besar melambangkan isolasi, atau bayangan panjang yang menyelimuti dirinya saat depresi kambuh. Teknik ini membuat pembaca tidak hanya membaca, tapi benar-benar “merasa” emosi karakter tanpa perlu penjelasan bertele-tele. Gaya seni ini juga berhasil menyeimbangkan momen-momen berat dengan keindahan kecil sehari-hari—seperti makan bersama, bermain dengan anak kecil, atau melihat salju jatuh—yang menjadi penawar bagi kegelapan batin Rei.

Narasi yang Lambat tapi Sangat Menyembuhkan: Review Komik March Comes in Like a Lion

Cerita March Comes in Like a Lion bergerak dengan tempo lambat yang disengaja, hampir seperti irama shogi itu sendiri—penuh pertimbangan, jeda, dan langkah kecil yang akhirnya membentuk pola besar. Tidak ada konflik besar yang tiba-tiba atau plot twist dramatis; perkembangan karakter terjadi melalui momen-momen kecil sehari-hari yang terasa sangat nyata. Rei perlahan belajar membuka diri berkat tiga saudara perempuan Kawamoto—Akari yang lembut dan penuh kasih, Hinata yang ceria dan polos, serta Momo yang masih kecil tapi penuh kehangatan.

Komik ini berhasil menggambarkan depresi dan trauma dengan cara yang sangat akurat tanpa pernah terasa eksploitatif. Gejala seperti anhedonia (ketidakmampuan merasakan senang), isolasi diri, pikiran negatif berulang, dan rasa bersalah digambarkan dengan detail halus. Namun, cerita tidak berhenti pada kegelapan—ia menunjukkan bahwa penyembuhan bisa datang dari hubungan sederhana: makan bersama, obrolan ringan, atau sekadar kehadiran orang lain yang peduli tanpa banyak bertanya. Proses ini lambat dan tidak linier, tapi justru itulah yang membuatnya terasa sangat manusiawi dan menyembuhkan.

Tema yang Mendalam dan Relevansi Jangka Panjang

Di balik cerita personal Rei, komik ini bicara tentang tema besar yang tetap relevan: kesepian di tengah keramaian kota besar, tekanan menjadi “sukses” di usia muda, dampak trauma masa kecil terhadap kepribadian dewasa, dan pentingnya hubungan antarmanusia yang tulus. Shogi bukan hanya latar belakang; ia menjadi metafora untuk hidup—langkah demi langkah, kekalahan yang mengajarkan, dan kemenangan yang terkadang terasa hampa. Keluarga Kawamoto mewakili “kehangatan yang dipilih”, bukan keluarga biologis, mengingatkan bahwa “rumah” bisa ditemukan di orang-orang yang kita izinkan masuk ke hidup kita.

Komik ini juga berhasil menyentuh isu kesehatan mental dengan empati tinggi tanpa pernah terasa menggurui. Depresi Rei digambarkan sebagai sesuatu yang nyata dan berat, tapi juga sebagai sesuatu yang bisa dilalui dengan dukungan dari orang sekitar. Pesan bahwa “kamu tidak harus kuat sendirian” disampaikan dengan cara yang sangat halus namun kuat.

Kesimpulan

March Comes in Like a Lion adalah komik yang berhasil menggabungkan seni visual yang indah, narasi yang sangat manusiawi, dan tema mendalam menjadi sebuah cerita yang tidak hanya menghibur tapi juga menyembuhkan. Ia mengajarkan bahwa kesepian bukan akhir dari segalanya, bahwa luka masa lalu tidak harus mendefinisikan masa depan, dan bahwa kehangatan kecil dari hubungan sederhana bisa menjadi penawar bagi kegelapan batin. Meski berat dan lambat, komik ini meninggalkan rasa hangat dan harapan setelah selesai dibaca. Bagi siapa saja yang pernah merasa terisolasi, kehilangan arah, atau sulit menerima diri sendiri, March Comes in Like a Lion terasa seperti teman yang sabar dan pengertian—mengatakan bahwa tidak apa-apa jika langkahmu lambat, selama kamu masih mau melangkah. Karya ini layak disebut sebagai salah satu manga terbaik yang pernah ada, karena berhasil mengubah rasa sakit menjadi sesuatu yang indah dan bermakna. Jika Anda belum membacanya, ini adalah komik yang benar-benar wajib dicoba—tapi siapkan hati, karena ceritanya akan tinggal lama di pikiran dan perasaan.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *