Review Komik Death Note. Komik Death Note karya Tsugumi Ohba (cerita) dan Takeshi Obata (ilustrasi) tetap menjadi salah satu karya paling ikonik dan sering dibahas ulang hingga Januari 2026 ini, hampir dua dekade setelah seri ini selesai terbit pada 2003–2006. Mengikuti Light Yagami, siswa SMA jenius yang menemukan buku catatan kematian supernatural dan memutuskan menggunakannya untuk “membersihkan” dunia dari penjahat, cerita ini berkembang menjadi permainan kucing-tikus intelektual antara Light dan detektif legendaris L. Dengan tema moralitas, kekuasaan absolut, dan psikologi manusia yang gelap, Death Note bukan sekadar thriller misteri—ini adalah eksplorasi filosofis tentang keadilan, ego, dan batas antara pahlawan dan monster. Di tengah maraknya adaptasi baru dan diskusi tentang AI serta kekuasaan di era modern, komik ini terasa semakin relevan karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya belum pernah benar-benar terjawab. BERITA BOLA
Plot yang Ketat dan Permainan Psikologis yang Brilian: Review Komik Death Note
Kekuatan utama Death Note terletak pada pacing dan ketegangan yang hampir tak tertahankan di paruh pertama seri. Setiap chapter terasa seperti langkah catur dalam duel intelektual antara Light dan L—keduanya jenius, tapi dengan motivasi yang bertolak belakang. Light mulai dengan idealisme tinggi, tapi lambat laun terjebak dalam egonya sendiri, sementara L tetap dingin, eksentrik, dan tak kenal lelah. Obata menggambar duel pikiran ini dengan visual yang tajam: close-up mata yang penuh perhitungan, senyum tipis yang menyeramkan, dan panel-panel kosong yang menciptakan ketegangan hening. Setelah L keluar dari cerita, banyak pembaca merasa seri kehilangan sebagian besar daya tariknya karena lawan-lawan selanjutnya tidak sebanding. Namun, arc Near dan Mello tetap punya momen cerdas, meski terasa lebih mekanis dibandingkan permainan psikologis awal. Twist besar di akhir—terutama bagaimana Light akhirnya jatuh—masih dianggap salah satu penutup paling memuaskan sekaligus tragis dalam sejarah manga, membuktikan bahwa kekuasaan absolut memang merusak secara mutlak.
Seni Takeshi Obata yang Menjadi Standar Emas: Review Komik Death Note
Seni Obata di Death Note adalah salah satu yang paling diakui dalam medium komik. Setiap karakter punya desain yang langsung melekat: Light dengan rambut sempurna dan tatapan dingin, L dengan postur aneh dan mata besar yang menembus, Misa dengan energi manis tapi gelap. Obata punya kemampuan luar biasa menggambar ekspresi mikro—senyum kecil yang menyembunyikan niat jahat, keringat dingin di dahi, atau tatapan kosong saat seseorang menyadari akhirnya dekat. Panel-panel besar sering digunakan untuk momen dramatis, seperti saat seseorang menulis nama di buku atau saat kematian datang, menciptakan rasa dingin yang menusuk. Latar belakang kota Tokyo yang sibuk kontras dengan ruang-ruang tertutup seperti markas L, memperkuat nuansa paranoia dan isolasi. Bahkan setelah bertahun-tahun, seni ini masih terasa modern dan sinematik—banyak pembaca bilang membaca ulang Death Note terasa seperti menonton film thriller psikologis dengan kualitas visual tertinggi.
Tema Filosofis yang Masih Relevan di Era Sekarang
Di balik permainan kucing-tikusnya, Death Note mengajukan pertanyaan besar yang tak lekang waktu: apakah seseorang boleh membunuh untuk kebaikan yang lebih besar? Light meyakini dirinya sebagai dewa yang membersihkan dunia, tapi seiring cerita berjalan, dia menjadi monster yang lebih buruk dari orang-orang yang dia hukum. L, di sisi lain, mewakili keadilan sistematis yang dingin dan tak berperasaan. Cerita ini tidak pernah memihak secara jelas—pembaca dipaksa mempertanyakan siapa yang benar, dan apakah “keadilan” Light benar-benar keadilan. Di 2026 ini, ketika diskusi tentang kekuasaan, pengawasan, dan moralitas teknologi semakin panas, tema Death Note terasa lebih tajam daripada dulu. Banyak pembaca muda bilang komik ini seperti peringatan tentang apa yang terjadi kalau seseorang punya kekuatan absolut tanpa pengawasan—sesuatu yang mirip dengan kekhawatiran tentang AI atau kontrol informasi saat ini. Warisannya adalah membuktikan bahwa manga bisa jadi sastra filosofis tanpa kehilangan elemen hiburan.
Kesimpulan
Death Note adalah salah satu komik paling berpengaruh sepanjang masa—sebuah thriller psikologis yang cerdas, visual yang memukau, dan pertanyaan moral yang tak pernah usai. Meski paruh kedua sering dikritik karena kehilangan sebagian ketegangan awal, keseluruhan cerita tetap jadi pengalaman yang tak terlupakan, terutama duel Light versus L yang jadi salah satu pertarungan intelektual terbaik dalam sejarah medium ini. Di Januari 2026 ini, ketika banyak cerita baru mencoba meniru formula misteri dan kekuasaan, Death Note masih berdiri tegak sebagai standar emas. Bagi pembaca lama maupun baru, komik ini bukan sekadar tentang buku catatan kematian—ini tentang bagaimana kekuasaan mengubah orang, dan bagaimana sulitnya membedakan antara keadilan dan keangkuhan. Sampai kapan pun, selama manusia masih bertanya “siapa yang berhak menentukan hidup dan mati?”, Death Note akan terus terasa seperti cermin yang gelap dan tajam.