Review Komik Katsute Kami Datta Kemonotachi e. Katsute Kami Datta Kemonotachi e, atau dikenal juga sebagai To the Abandoned Sacred Beasts, adalah manga dark fantasy yang tamat pada 2023 setelah berjalan selama sembilan tahun dengan total 15 volume. Meski sudah berakhir, hingga akhir 2025 manga ini masih sering dibahas kembali karena tema mendalamnya tentang perang, pengkhianatan, dan nasib prajurit yang ditinggalkan. Cerita berlatar dunia alternatif mirip perang saudara, di mana pihak Utara menciptakan prajurit super bernama Incarnates—manusia yang bisa berubah jadi monster mitos—untuk menang melawan Selatan. Setelah perang usai, janji damai justru mengkhianati mereka: Incarnates dianggap ancaman dan harus dimusnahkan. Hank, mantan kapten Incarnates yang jadi werewolf, kini berburu mantan anak buahnya yang kehilangan kemanusiaan. Schaal, putri salah satu Incarnates, ikut serta dalam perjalanan ini untuk cari kebenaran. Manga ini penuh aksi brutal, tragedi emosional, dan kritik sosial tentang korban perang. BERITA BOLA
Alur Cerita dan Karakter Utama: Review Komik Katsute Kami Datta Kemonotachi e
Alur Katsute Kami Datta Kemonotachi e dibangun seperti “monster of the week” di awal, di mana Hank dan Schaal bertemu Incarnates berbeda yang sudah gila dan harus dibunuh. Setiap pertemuan ungkap backstory tragis: prajurit yang dulu hero kini jadi monster karena kutukan transformasi. Hank digambarkan sebagai anti-hero dingin tapi penuh beban janji pada teman-temannya, sementara Schaal awalnya haus balas dendam tapi perlahan paham kompleksitas situasi. Karakter pendukung seperti Cain Madhouse—teman lama Hank yang punya agenda sendiri—tambah lapisan konspirasi politik. Menuju akhir, cerita bergeser dari aksi ke drama mendalam tentang pengampunan, pengkhianatan pemerintah, dan apakah Incarnates layak hidup di masyarakat damai. Ending bittersweet-nya memuaskan, meski bikin pembaca mikir keras tentang harga kemenangan perang.
Gaya Ilustrasi dan Atmosfer: Review Komik Katsute Kami Datta Kemonotachi e
Ilustrasi manga ini jadi salah satu kekuatan utama, dengan desain Incarnates yang epik dan mengerikan—dari minotaur raksasa sampai naga atau werewolf yang detail brutal. Panel pertarungan dinamis, penuh darah dan transformasi yang visual banget, tapi tidak berlebihan gore. Latar steampunk mirip Amerika abad 19—kota industri, kereta uap, hutan gelap—mendukung atmosfer melancholy dan despair. Shading tebal serta ekspresi wajah karakter yang intens bikin nuansa dark fantasy terasa kuat, kontras dengan momen emosional hangat antara Hank dan Schaal. Secara keseluruhan, art style-nya mature dan artistik, cocok banget buat cerita yang ingin terasa berat dan haunting.
Kelebihan, Kekurangan, dan Respons Pembaca
Manga ini unggul di tema anti-perang yang dalam—banyak pembaca bilang ini metafor nyata tentang veteran yang trauma dan ditinggalkan negara. Karakter kompleks, aksi memukau, dan twist konspirasi bikin rating tinggi, sering 8-9 dari penggemar dark fantasy. Banyak yang anggap underrated gem karena eksekusi emosionalnya kuat dan ending solid. Cocok buat yang suka cerita mature seperti Berserk tapi lebih fokus tragedi manusia. Namun, ada kritik soal pacing lambat di tengah karena terlalu banyak backstory per Incarnates, atau beberapa bagian terasa repetitif sebelum masuk plot utama. Beberapa pembaca bilang terlalu depressing bagi yang cari hiburan ringan. Secara keseluruhan, respons positif dominan, terutama dari yang apresiasi kritik sosialnya.
Kesimpulan
Katsute Kami Datta Kemonotachi e tetap jadi rekomendasi kuat di akhir 2025, meski sudah tamat—cerita tentang Incarnates yang dikhianati ini timeless dan bikin pembaca razia tentang dampak perang. Dengan Hank dan Schaal sebagai duo ikonik, ilustrasi memukau, dan narasi yang tak takut gelap, manga ini berhasil beda dari fantasy biasa. Jika kamu suka dark fantasy dengan elemen aksi, tragedi, dan pesan mendalam, langsung baca dari awal. Dijamin bakal ninggalin kesan lama, apalagi endingnya yang pas tanpa loose end besar. Klasik modern yang layak diingat!